Categories CerpenS Umum

CerpenS #25 Putus Saja

Tak ada yang membantah, bahwa rasa suka itu tak mengenal tahta, rupa, dan harta. Dia datang begitu saja, mengetuk pintu hati siapapun yang dia sapa. Menebarkan pesonanya, lalu hinggap se-lama dia merasa nyaman bersamanya.

Memang, tak ada logika dengan yang namanya suka. Suka ya suka aja….. jangan dicari-cari apa sebab dan alasannya. Apalagi kalo harus membuka-buka kamus semua bahasa. Idiih……bikin cape aja !

“Aku suka sama kamu”, ucapmu dulu……tiba-tiba.
Tentu saja aku kaget. Karna tak mengira, kamu ternyata menyimpan rasa. Apalah aku ini…..siapalah aku ini. Tak berpunya, sangat bersahaja, dan bukan siapa-siapa….

Mungkin hanya karna sering bersama lalu muncul rasa suka. Atau mungkin suka dulu, lalu jadi sering bersama. Aahh…..entahlah….
Yang pasti, ketika nyaman sudah melanda, itulah yang tak bisa dianggap biasa.

Ibarat produk makanan kemasan yang memiliki tanggal kadaluarsa, terkadang rasa-pun sama. Hanya kapan waktunya, yang nggak bisa ditentukan di muka.

Pun aku dan kamu…..
Berjalan bersama, beriringan, namun akhirnya tak tahan juga. Masing-masing keras kepala dan tak ada yang bisa mengatasinya.
“Kamu memang egois”, kataku marah, ketika tau watakmu yang selalu tak mau mengalah.
“Kamu pikir kamu enggak…..? “, balasmu penuh emosi, karna menganggapku selalu ingin menang sendiri.

Begitulah…..
Rasa nyaman itu mulai terkikis, rasa kasihpun mulai memudar. Semua menjadi hambar, tak lagi seindah di awal yang tergambar.

Padahal……
“Kata orang, kita tuh jodoh lho…… Banyak yang bilang kalo kita itu mirip”, katamu dengan bangga, duluuu….. sambil menarik tanganku menuju cermin besar di ruang tamu.
Akupun mengangguk setuju, karna bagiku…..kamu adalah nomer satu. Pun cermin besar itu, pastilah tak akan mungkin bisa menipu.

Tapi kini……
Jangankan percaya saat berkaca, bahkan pantulannyapun sudah sangat menyilaukan mata. Pedih, dan tak tertarik lagi berdiri di depannya.

“Dulu kita mengira, bahwa kita akan bersama selamanya. Tapi ternyata hanya sementara. Dulu, kita tak punya alasan kenapa menyukai, tapi kini kita punya alasan kenapa harus menyudahi”.

Itulah kalimat perpisahan, sebagai tanda bahwa aku dan kamu benar-benar putus, lepas ikatan. Tak ada sakit hati, tak ada pula dendam pribadi. Karna kita berdua menyepakati, bahwa ini harus diakhiri.

* Dina DM *

Worker, Content Creator, Investor Receh

More From Author

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like