Ilustrasi sekumpulan anak milennial.

Pesta demokrasi terbesar di Indonesia akan digelar kurang dari setahun lagi, berbagai partai politik baik dari kubu petahana dan oposisi sama-sama sibuk mencari hingga menghimpun berbagai elemen masyarakat tak terkecuali generasi millennial. Generasi ini terkenal apatis dalam keterlibatan berpolitik, bagaimana strategi yang harus diambil oleh kedua kubu untuk menggaet suara millennial?

Mengapa millennial sangat dipertimbangkan sebagai lumbung suara? Jawabannya adalah millennial mewakili 40% pemilih nasional menurut salah satu pengurus partai Golkar Ahmad Irawan, 40% bukanlah angka yang kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa, tentu millennial menjadi target ‘empuk’ kedua kubu.

Di kubu oposisi misalnya, sosok Sandiaga Uno dinilai mampu menggaet millennial karena termasuk golongan muda sehingga berpotensi. Sedangkan di kubu petahana ada sosok Ridwan Kamil yang indentik sangat aktif bermedia sosial, sehingga dinilai potensial dalam menggaet millennial.

Bagi penulis sendiri yang kebetulan masih dalam rentang millennial, adalah kami memilih berdasarkan fakta dan hasil kerja, ditambah identitas yang melekat pada millennial adalah melek teknologi sehingga dapat dengan mudah mencari tahu fakta dan hasil kerja apa yang telah kedua kubu perbuat.

Menjadi apatis bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keputusasaan di tengah harapan bangsa pada pundak-pundak generasi millennial.

Sumber pendukung: http://www.tribunnews.com/nasional/2018/04/06/miliki-suara-40-persen-generasi-milenial-jadi-penentu-dalam-pemilihan-presiden-2019?page=2

Baca Juga:  Peran Kaum Millenial pada Pemilu 2019