Dipekan lalu kita diramaikan dengan penyuntikan perdana dari vaksin virus Covid-19. Vaksin Sinovac yang dibeli dari China sudah resmi digunakan Pemerintah Indonesia di minggu lalu. Sebagai investor pasar modal Indonesia, bagaimana efek dari vaksin ini terhadap IHSG? Apa yang harus kita lakukan sebagai investor dalam menyikapi vaksinasi perdana ini? So people, Let’s talk bout it!

Di awal minggu lalu sebenarnya ada berita negatif yang datang dari dalam negeri. Dikutip dari CNBC Indonesia Senin 11 Januari 2021,”Melihat kasus pertambahan Covid-19 yang sudah tembus 9.000-10.000 per hari, akhirnya pemerintah memutuskan untuk menarik rem darurat. Kali ini namanya bukan lagi Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB), melainkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang akan diterapkan pada 11-25 Januari 2021. PPKM berlaku di sejumlah daerah di Jawa dan Bali. Memang wilayah yang terdampak kebijakan ini tidak merata dan hanya di daerah-daerah yang rawan Covid-19 saja. Namun seluruh aktivitas kembali dibatasi. Karyawan diminta untuk kembali bekerja dari rumah (work from home) hingga sebanyak 25%. Kegiatan belajar mengajar (KMB) dilakukan secara daring. Tempat hiburan yang dikelola pemerintah dilarang beroperasi. Tak sampai di situ saja, pemerintah juga memangkas jam operasional pusat perbelanjaan hingga pukul 19.00 WIB saja, lebih lanjut restoran dan tempat nongkrong masih diperbolehkan buka dengan syarat kapasitas maksimal hanya 25% saja. Sementara rumah ibadah hanya boleh menerima jamaah 50% dari kapasitas.”

Namun berita negatif yang datang di awal minggu lalu tersebut tidak diperhatikan oleh market sama sekali. Dikutip dari CNN Indonesia Senin 11 Januari 2021,”Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin (11/1).Indeks berada di level 6.382, naik 123,1 poin atau 2 persen. Data RTI infokom menunjukkan investor melakukan transaksi sebesar Rp23,67 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 32,39 miliar saham. Pelaku pasar asing mencatatkan beli bersih atau net buy di seluruh pasar sebesar Rp2,57 triliun. Pada penutupan kali ini, 263 saham menguat, 240 terkoreksi, dan 134 lainnya stagnan. Terpantau, tujuh dari sepuluh indeks sektoral menguat, dipimpin oleh sektor keuangan sebesar 3,44 persen.

Ternyata ada hal lain yang lebih diperhatikan market daripada PPKM yang mulai diberlakukan mulai minggu lalu. Issue apakah itu?

Tentu saja pekan lalu program vaksinasi Covid-19 di Indonesia yang mulai dilakukan. Dikutip dari CNBC Indonesia,”Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memberi label halal dan suci untuk vaksin Covid-19 buatan Sinovac tersebut. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih melakukan uji untuk menerbitkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA). Setelah BPOM memberikan lampu hijau maka orang pertama yang akan disuntik vaksin Covid-19 adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan vaksinasi Covid-19 akan dimulai pada Rabu pekan depan (31/1/2021). Presiden Joko Widodo dan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju akan jadi penerima vaksin pertama.

Vaksinasi ini pun lebih direspon market daripada PPKM yang berlaku. Terbukti IHSG di minggu lalu terpantau naik walaupun di hari jumat 15 Januari 2021 terpantau koreksi.



Koreksi ini terbilang wajar, dikarenakan selama seminggu lalu IHSG sudah naik signifikan. Bila kita perhatikan stokastiknya IHSG, saat ini stokastiknya berada di angka 80 yang artinya kenaikan IHSG ini sangat rawan terkena koreksi di minggu ini. Bagi investor masa koreksi ini bisa kita manfaatkan untuk kembali membeli saham yang berfundamental bagus dan sehat.

Selama masa koreksi kemarin ada sektor yang mencuri perhatian saya yaitu sektor pharmasi atau kesehatan.

Dikutip dari CNBC Indonesia Sabtu 16 Januari 2021,”Pandemi Covid-19 memang membawa petaka bagi masyarakat dan pelaku bisnis. Namun dibalik itu ada bisnis yang meraup cuan besar karena ketiban berkah saat pandemic yang membuat produk-produknya diburu. Tidak hanya produknya saja yang laris manis di pasaran, tetapi sahamnya juga jadi primadona di kalangan para pelaku pasar dan spekulan. Sebut saja PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF). Harga saham duo emiten farmasi pelat merah itu melesat signifikan di kala pandemic Covid-19 merebak. Bayangkan saja dalam satu tahun terakhir harga saham KAEF melesat hingga 462,2% dari Rp1.005/unit awal tahun 2019 menjadi Rp5.650/unit pada perdagangan akhir pekan kemarin (15/1/2021). Harga saham INAF meroket 857,6% dalam setahun terakhir. Saham INAF ditutup di level yang sama dengan KAEF pekan ini yaitu Rp5.650/unit, atau melonjak dari Rp590/unit pada periode yang sama tahun lalu. Dua saham ini meroket karena adanya sentiment positif vaksin Covid-19, PT Bio Farma (persero) menunjuk KAEF dan INAF untuk menjadi distributornya. Harga saham KAEF dan INAF sempat menyentuh level tertingginya sepanjang sejarah (all time high) pada awal pekan ini. Kedua saham tersebut dihargai Rp6.975/unit di pasar. Namun setelah itu keduanya mulai longsor. Kenaikan harga saham yang sangat fantastis tidak terlepas dari aksi spekulasi yang berlebihan. Fenomena euphoria di pasar membuat nilai valuasi kedua saham farmasi ini melampaui rata-rata industry dan tren historinya. Bahkan Valuasinya sudah sangat tidak masuk akal.”

Kita coba perhatikan Grafik dari dua saham ini!


Di minggu lalu INAF dan KAEF terkena Auto Reject Bawah (ARB). Lalu kenapa bisa seperti itu? Terdapat beberapa alasan kenapa saham ini mulai dilepas para investor.

Yang pertama adalah valuasinya yang sudah terlalu mahal. Seperti yang diberitakan sebelumnya kedua saham ini sudah terlalu mahal untuk di ukur dengan fundamental saat ini. Kedua saham bisa jadi dilepas karena issue vaksin yang sepertinya akan berlalu sehingga kenaikan kedua saham ini hanya berdasarkan sentiment yang terjadi di kedua saham tersebut. Mengenai valuasinya kita akan bahas di THE PROFILE hari Sabtu besok.

Yang kedua adalah investor mulai melirik sektor lain yang akan kembali naik atau mulai recovery setelah adanya vaksinasi. Selama pandemi Covid-19 beberapa sektor terkena efek dari pandemi ini. Seperti sektor Konstruksi, Properti, dan Retail. Akibat pandemi proyek pembangunan yang harusnya berjalan diberhentikan sementara dikarenakan menunggu pandemi ini usai atau pendanaan pembangunan ini di alihkan untuk penangan Covid-19 seperti dana bansos dan biaya vaksinasi. Sektor properti juga terkena imbas, akibat banyaknya pemberhentian kerja/PHK yang terjadi sehingga masyarakat lebih mementingkan biaya kebutuhan sehari hari dibandingkan untuk membeli atau berinvestasi pada properti. Begitu juga pada sektor retail. Sektor retail bisa kembali recovery akibat adanya vaksinasi yang mulai dilakukan pemerintah Indonesia. Sektor Retail bisa dibilang terkena imbasnya karena adanya PSBB yang diberlakukan. PSBB ini mengakibatkan toko memangkas waktu operasional mereka dan membatasi kapasitas makan di tempat atau dine in akibat jaga jarak yang diberlakukan.

Untuk Vaksinasi ini memang terdapat plus dan minusnya untuk beberapa sektor. Investor sepertinya sudah mulai merubah strategi dan cara pandang mereka setelah vaksinasi ini di berlakukan. Bagi kalian yang ingin mulai berinvestasi saham, ada kalanya kalian mulai menganalisis sendiri terlebih dahulu sebelum kalian membeli saham. Sumber-sumber yang diberikan hanya sebagai referensi untuk kalian mengambil keputusan. Ingat, Uang kalian adalah tanggung jawab kalian ya!

Kita jumpa lagi di Hot Issue selanjutnya! Tetap jaga jarak, Tetap pakai masker, dan Tetap rajin cuci tangan! Sampai jumpa!