Holaaa para Issueters! Welcome to Hot Issue minggu ini. Setelah di minggu lalu Hot issue absen dalam memberikan informasi untu kalian dikarenakan kelas online, di minggu ini Hot Issue kembali hadir dengan topik pembahasan yang hangat dan menarik untuk disimak. Setelah di minggu lalu IHSG bergerak turun tanpa henti, Hot issue ingin membahas kelanjutan dari Biden Effect bagian 2 di minggu ini. So people, Let’s talk bout this!

Joe Biden secara resmi sudah dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat ke-46 pada tanggal 20 Januari 2021. Banyak harapan kepada Presiden Biden terutama investor agar perekonomian Amerika Serikat dan dunia bisa cepat pulih karena pandemi Covid-19. Program Biden pun sangat ditunggu oleh para investor dan akan langsung tercermin pada pergerakkan market, namun yang palin di sorot adalah akankah perang dagang dengan China akan usai atau malah akan berlanjut?


Dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat 22 Januari 2021,”Dilantiknya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) menggantikan Donald Trump membawa harapan khusus bagi China. Dalam sebuah konferensi pers, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Hua Chunying menyatakan bahwa negeri Panda menghaturkan selamat kepada Biden dan juga mengharapkan agar persatuan kembali terjalin antara kedua Negara. “Saya perhatikan bahwa Presien Biden telah berulang kali menekankan istilah ‘persatuan’ dalam pidato pengukuhannya, yang memang dibutuhkan dalam hubungan China-AS saat ini,”katanya dikutip dari Global Times, Jumat (22/1/2021). Namun ada juga yang menarik dari pernyataan perwakilan resmi Negeri Tirai Bambu itu. Dimana Presiden Xi Jinping itu mempersilahkan ‘malaikat’ untuk mengusir ‘keburukan’ yang selama ini ada dalam hubungan China-AS dapat mengatasi kekuatan jahat,’tambahnya. Meski begitu hubungan AS dan China tampaknya masih memanas. Pemerintah Biden mengecam sanksi China yang diberikan ke puluhan warga AS juga yang mantan pejabat kabinet Trump.

Dari berita pertama kita bisa melihat China mengharapkan adanya perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat. Pemerintah China lewat Kemenlu mereka berharap hubungan mereka dengan Amerika Serikat bisa terrestart lagi dari nol. Namun di akhir berita kita bisa melihat bagaimana Pemerintah China masih memiliki dendam terhadap Pemerintahan Amerika Serikat yang sebelumnya di pimpin oleh Trump dengan memberikan sanksi ke mantan pejabat kabinet Trump. Hal ini pun langsung di respon oleh Pemerintah Biden dengan melakukan kecaman terhadap China yang memberikan sanksi kepada mantan pejabat sebelumnya. Mengutip dari CNBC International, pemerintah China memberikan sanksi ke 28 orang kepercayaan Trump sewaktu ia menjabat. Diantaranya mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, mantan Penasihat Keamanan Nasional Robert O’Brien dan mantan Penasihat Perdagangan Peter Navarro. “Selama beberapa tahun terakhir beberapa politisi anti-China di AS, karena kepentingan politik mereka yang egois dan prasangka serta kebencian terhadap China dan tidak menunjukkan perhatian pada kepentingan rakyat China,”tulis Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan dikutip Jumat (22/1/2021). “Orang-orang ini dan anggota keluarga dekat mereka dilarang memasuki daratan, Hongkong, dan Macau, China. Mereka dan perusahaan serta institusi yang terkait dengan mereka juga dilarang berbisnis dengan China,”tulis Kemenlu China lagi.

Diberita kedua kita bisa pergerakkan militer AS yang mulai dilakukan di laut China Selatan. Dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu 30 Januari 2021,”Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) mengecam penerbangan armada pesawat militer China di wilayah Laut China Selatan (LCS), tetapi menyebut aksi itu tidak memberikan ancaman. “Theodore Roosevelt Carrier Strike Group memantau dengan cermat semua aktivitas Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) dan Angkatan Udara (PLAAF) dan tidak pernah menjadi ancaman bagi kapal, pesawat, atau pelaut Angkatan Laut AS,”Komando Pasifik militer AS kata dalam sebuah pernyataan. Sebelumnya AS dibawah perintah Presiden Joe Biden menerjunkan rangkaian kapal perang tempur yang dipimpin USS Theodore Roosevelt untuk melakukan operasi yang disebut sebagai “kebebasan navigasi” di lautan kaya migas itu. Tujuan dari operasi itu adalah untuk membendung ekspansi China di wilayah laut sengketa itu. China semakin menegaskan kehadirannya di wilayah yang disengketakan dalam beberapa tahun terakhir, secara agresif memperluas wilayahnya melalui pulau-pulau dan terumbu karang buatan manusia yang membuat kecewa tetangga Asia Tenggara dengan klaim yang bersaingan.Banyak pihak yang berharap agar konflik di Laut China Selatan mereda. Namun kalo kita lihat berita ini membuat harapan tersebut jauh panggang dari api. Di pemerintahan Joe Biden konflik Laut China Selatan masih akan mungkin terjadi. Hal ini tentunya akan mempengaruhi hubungan kedua Negara tersebut.

Lanjut ke berita selanjutnya dimana Biden mengkaji ulang damai dagang AS-China. Masih dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu 31 Januari 2021,”Pemerintahan baru Joe Biden melakukan tinjauan ulang atas kesepakatan perdagangan Fase 1 AS-China yang ditandatangani pada Januari 2020. Di mana perjanjian ini sebelumnya diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Menurutnya pemerintahan Biden difokuskan pada pendekatan hubungan AS-China dari posisi yang kuat. Artinya dilakukan komunikasi dengan sekutu dan mitra tentang bagaimana akan bekerja dengan China. Sebelumnya, Trump menandatangani perjanjian perdagangan Fase 1 dengan Presiden China Xi Jinping pada Januari 2020. Perjanjian ini untuk meredakan perang dagang yang berlangsung hampir 18 bulan. Perang dagang ini menyebabkan perlambatan antara dua ekonomi terbesar di dunia. Berdasarkan kesepakatan ini, dijanjikan aka nada peningkatan pembelian barang-barang pertanian dan manufaktur AS, juga energi dan jasa sebesar US$ 200 miliar di atas level 2017 selama kurun waktu dua tahun. Namun pembelian ini tidak berhasil dijalankan pada tahun 2020. Peneliti di Peterson Institute for International Economics Chad Bown merilis analisis yang menunjukkan bahwa pembelian barang-barang AS oleh China pada tahun 2020 turun 42% dari komitmen yang dibuat Beijing dalam perjanjian perdagangan. “Kami tidak membaca terlalu banyak tentang proses pada saat ini. China memiliki 11 bulan lagi untuk memenuhi janjinya untuk membeli tambahan US$ 200 miliar produk AS,”Ujar Juru Bicara Dewan Bisnis AS-China Doug Barry.


Apabila kesepakatan damai dagang AS-China ini dihentikan oleh Pemerintahan Biden maka bisa dipastikan bahwa perang dagang jilid kedua dengan China akan kembali berlanjut di tengah pemulihan ekonomi selama pandemi Covid-19. Seperti kita ketahui bersama bahwa Pandemi ini membuat perekonomian dunia menjadi porak poranda, sehingga memerlukan waktu yang lama untuk kembali pulih. Adanya vaksin Covid-19 juga tetap memerlukan waktu karena perlu mekanisme distribusi vaksin yang tertata. Berjuta-juta orang didunia yang divaksin juga memerlukan waktu produksi vaksin yang tidak sebentar. Belum lagi saat ini banyak mutasi covid-19 terbaru yang bermunculan membuat pertanyaan kembali apakah vaksin yang sudah dibuat akan mempan menghadapi mutasi virus Covid-19.

Namun sebelum itu pembatasan lockdown di beberapa Negara tentunya harus mulai diantisipasi para investor karena akan mempengaruhi distribusi barang. Kita tentunya berharap adanya jalan keluar antara AS-China sehingga mendukung pemulihan ekonomi dunia. Semoga!

Sekian untuk Hot Issue di minggu ini. Semoga bisa menjadi referensi kalian khususnya dalam berinvestasi saham. Analisis kembali saham-saham yang kalian beli ya! Jangan sampai kalian hanya mengikuti trend, teman bahkan influencer yang tentunya tidak didasari analisis yang jelas.

Kita ketemu lagi di Hot Issue minggu depan. Tetap pakai masker, Tetap Jaga Jarak, dan Tetap Rajin Cuci Tangan ya! Sampai jumpa!