Holaa Issuters! Welcome to Hot Issue awal pekan ini. Setelah absen beberapa pekan akhirnya Hot Issue kembali memberika referensi untuk kalian dalam menabung saham. Dipekan lalu kita di kejutkan dengan harga Nikel yang anjlok dari harga tertingginya. Sebenarnya ada apa dengan komoditi nikel? Bagaimana perkembangan mobil listrik khususnya di Indonesia? So people, Let’s talk bout it!

Dalam sepekan ini, harga saham komoditi khususnya saham Nikel turun bahkan anjlok menuju ARB (Auto Reject Bawah). Beberapa berita negatif juga menghampiri perkembangan mobil listrik di Indonesia yang turut memperparah penurunan harga saham tersebut. Lalu ada rangkuman berita apa sepekan lalu?

Yang pertama datang dari berita bisnis.com Kamis, (4/3/2021),”Gara-gara tambang di Kutub Utara kembali beroperasi, harga nikel melorot. Harga NIkel mencatatkan penurunan harian terbesar dalam lebih dari empat tahun seiring dengan kemajuan perbaikan pada salah satu tambang terbesar di dunia Nornickel. Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (4/3/2021) harga Nikel terkoreksi 6,7 persen ke posisi US$17.417 Per ton pada London Metal Exchange (LME). Harga komoditas ini juga sempat turun hingga 7,8 persen di kisaran US$17.220 per ton, atau penurunan harian terbesar sejak Desember 2016 lalu. Salah satu faktor koreksi harga nikel adalah proses perbaikan pada salah satu tambang milik perusahan asal Rusia MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel. Sebelumnya, output nikel dari tambang perusahaan di Oktyabrsky dan Taimyrsky pada wilayah Arktik terpaksa dihentikan. Chief Executive Officer Nornickel Vladimir Potanin mengatakan, terhentinya kegiatan produksi disebabkan oleh banjir yang memasuki salah satu jalur penghubung kedua tambang. Ia melanjutkan, gangguan tersebut telah dideteksi sejak 12 Februari lalu di Oktyabrsky. Potanin mengatakan, pihaknya optimistis dapat mengatasi masalah ini sepenuhnya pada 9 Maret mendatang.

 
Dari berita pertama di atas kita dapat mengetahui kalo produksi Nikel mulai berangsur normal sehingga dapat memenuhi permintaan pasar akan kebutuhan pasokan Nikel. Mulai kembalinya tambang nikel di Rusia menjadi salah satu alas an mulai pulihnya produksi Nikel dunia. Harga Nikel pun mulai berangsur turun mengingat supply Nikel yang mulai berjalan normal.

Lanjut ke berita selanjutnya ada Tarik ulur Tesla dan sinyal Elon Musk untuk emiten Nikel. Kembali dikutip dari Bisnis.com Kamis, (4/3/2021) ,”Rencana investasi Tesla.Inc belum kunjung menemui titik cerah setelah perusahaan besutan Elon Musk itu lebih memilih India sebagai lokasi pendirian pabrik kedua di luar Amerika Serikat. Dunia usaha menyayangkan keputusan Tesla lebih memilih melanjutkan investasinya di India ketimbang di Indonesia. Beragam rumor beredar di kalangan pengusaha mengingat belum ada kepastian menarik Elon Musk ke Tanah Air. Wakil Ketua Bidang Perindustrian Kadin Johnny Darmawan menilai Tesla memiliki konsep bisnis rintisan. Secara bahan baku, lanjut dia, Indonesia memang sangat menarik dengan melimpahnya Nikel untuk pengembangan komponen baterai. Namun, Tesla merupakan perusahaan yang membutuhkan dukungan teknologi penuh.


Tesla secara resmi sudah mengumumkan akan membuka pabrik di India. Seperti yang kita tau India memiliki Sumber Daya Manusia khusunya IT lebih baik dari Indonesia. Dalam proses pengembangan baterai Tesla membutuhkan SDM IT yang lebih banyak sehingga proses dalam pengembangan baterai menjadi cepat dan lebih baik. Lalu apakah Indonesia yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia tidak menarik untuk Tesla? Will see…

Setelah itu pun para investor bertanya-tanya bagaimana investasi Tesla di Indonesia? Seperti yang dikutip di CNBC Indonesia Kamis (4/3/21),”Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia kembali bicara soal investasi kendaraan listrik di tanah air. Menurut dia, pemerintah saat ini fokus pada pengembangan industri kendaraan listrik beserta turunannya. Bahlil bilang kalua itu sejalan dengan keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mentransformasikan kegiatan perekonomian dari industri sektor primer menjadi industri berbasis nilai tambah. Ia mencontohkan komoditas nikel yang didorong untuk hilirisasi sampai dengan baterai mobil listrik. “LG mulai ground breaking Maret akhir untuk 10 gigawatt pertama. Ini investasi LG, Hyundai, juga Posco, dengan ada satu perusahaan dari China, mereka melakukan kerja sama dengan BUMN Indonesia mulai dari proses tambangnya, smelternya, prekursornya, baterai mobil, sampai dengan recycle-nya. Inilah bentuk yang akan kita lakukan ke depan agar material ore kita tidak hanya dipakai memenuhi stok pabrik-pabrik mereka di luar negeri,”kata Bahlil dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan, Kamis (4/3/2021) malam. Selain LG yang memproduksi baterai mobil listrik, perusahan baterai mobil listrik dari China CATL (Contemporary Amperex Technology) juga sudah masuk untuk memproduksi baterai terintegrasi dengan nilai investasi US$5,2 miliar. Bahlil menambahkan perusahaan asal Jerman BASF (Badische Anilin und Soda Fabrik) juga sudah masuk untuk industri prekursor dan katoda.


Pemerintah mencoba menyampaikan untuk investasi nikel khususnya pengembangan baterai listrik di Indonesia masih akan cerah. Selain Tesla banyak project yang mulai dikerjakan seperti LG yang mulai membuat ground breaking di akhir Maret ini. Selain itu ada Hyundaim Posco dan BASF. Project dan investasi ini bernilai miliaran sehingga permintaan nikel di Indonesia masih akan tinggi.

Lalu apakah kita harus ikut menjual saham komoditi Nikel? Menurut saya prospek komoditi Nikel masih akan cerah kedepannya. Dengan perubahan energi yang sedang digencarkan, dari energi BBM (Bahan Bakar Minyak) ke energi listrik membuat komoditi Nikel masih akan baik kedepannya. Pasang surut yang terjadi akibat Tarik ulur investasi sudah biasa dan sering terjadi. Sebegai investor kita wajib melihat peluang dan seharusnya bisa mengelola emosi kita di market. Kalo perusahaan tersebut baik secara fundamental laporan keuangannya tentu kedepannya perusahaan itu masih akan terus bertumbuh. Hal ini ikut dibarengin dengan berita yang mendukung prospek dan investasi Nikel di Indonesia berikut ini.

Masih dikutip dari CNBC Indonesia Kamis (4/3/2021),”Pemerintah tidak kecewa melihat Tesla lebih memilih India untuk pembangunan pabrik mobil listrik. Hal ini karena rencana Tesla di Indonesia sejak awal bukan perakitan mobil. Staf khusus Kementerian BUMN Arya Mahendra Sinulingga menegaskan bahwa Indonesia tidak kecolongan soal Tesla yang memilih India untuk membangun pabrik mobil-nya. Di Indonesia Tesla akan lebih fokus pada produk turunan seperti baterai mobil listrik dan fasilitas charging. “Sebenarnya Tesla itu bikin mobil (di India) nah kita bukan bikin mobil. Kita kejar dari Tesla bukan bikin mobil tapi dari baterai mobil listrik-nya atau di charging. Kita sedari awal tidak bicara membangun mobil-nya,” Arya pada program Zooming with Primus: Prospek Pembentukan Holding Baterai, Kamis (4/3/2021). “Makanya Tesla ke India itu kita nggak merasa kecolongan, karena kita bukan mau bangun pabrik mobil listrik,”jelasnya. Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama PT Mining Industri Indonesia (MIND ID), Agus Tjahajana mengatakan pembicaraan dengan Tesla saat ini masih dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves).

Seperti yang sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya, selain Tesla pun pemerintah memiliki proyek dengan pihak lainnya dikarenakan Nikel Indonesia adalah Nikel terbesar di dunia. Proyek dengan Tesla pun pemerintah sudah mengkonfirmasi bahwa mereka bukan mengincar perakitan mobil listrik namun lebih kepada baterai mobil listrik itu sendiri.

Jadi bagaimana, apakah penurunan harga saham sektor komoditi nikel menjadi berkah tersendiri untuk kamu agar bisa membeli banyak lot saham atau penurunan yang terjadi kamu anggap menjadi suatu ketakutan karena harga yang turun?

Ada baiknya kalian melakukan analisis mendalam perihal proyek pemerintah untuk industri nikel dan melakukan pengecekkan terhadap fundamental perusahaan saham yang kalian beli.

Kita jumpa lagi di hot issue selanjutnya ya! Tetap pakai masker, Tetap Jaga Jarak, dan Tetap Rajin Cuci tangan! Sampai jumpa!