Biden Effect! Yap, situasi pasar modal di minggu ini bisa dibilang sangat menarik dan untuk perekonomian tahun depan menjadi lebih jelas dari sebelumnya. Di Hot Issue minggu ini kita akan membahas outlook pasar modal dari penutup tahun ini sampai dengan tahun 2021. Program apa saja yang akan dilakukan oleh Biden dan apa dampaknya terhadap negara berkembang? Kita mulai kupas satu-satu!

Menilik pergerakkan IHSG sampai dengan Kamis siang ini.



Sempat menyentuh 5.509 dimana di minggu lalu IHSG berada pada 5.103. Kenaikan yang bisa dibilang cukup tinggi hingga 4% lebih. Lantas apa yang membuat pasar optimis hingga membuat market menjadi lebih bergairah?

Alasan pertama kita bisa melihat hasil pemilu dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump kalah pemilu dari Joe Biden. Kemenangan Biden ini bisa dibilang menjadi gairah baru untuk pasar modal Indonesia bahkan perekonomian di dunia. Trump yang syarat dengan kontroversinya seperti perang dagang dengan Cina, isu-isu Rasial hingga penanganan covid-19 di Amerika Serikat membuat perekonomian negara tersebut menjadi tidak stabil. Perlu diingatkan pasar memerlukan sesuatu yang pasti. Mulai dari kebijakan ekonomi yang diambil, penangan covid-19 yang lebih baik, hingga stimulus yang di gelontorkan untuk perekonomian.

Kita akan mulai bedah untuk Program Biden saat menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya. Program Biden yang pertama adalah menaikkan pajak di Amerika Serikat. Efek dari kenaikan pajak ini akan membuat dana yang sebelumnya terhimpun di Amerika Serikat berpindah ke Emerging Market atau negara berkembang termasuk Indonesia untuk menghindari kenaikkan pajak. Bisa kita lihat efeknya, dimana IHSG mulai dibanjiri oleh dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia.

Program Biden yang kedua adalah memberi Stimulus yang lebih besar daripada yang diberikan Trump. Di kutip dari Tempo yang terbit 21 Oktober 2020,” Trump mengatakan akan menerima kesepakatan yang lebih besar dari tawaran Partai Demokrat yaitu US$2,2 billion atau sekitar Rp32,300 triliun. Trump mengatakan ini seiring pembicaraan soal besaran paket stimulus antara Ketua DPR Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan, Steven Mnuchin, mendekat tenggat pada Selasa pekan ini waktu setempat.” Dikarenakan terjadinya tarik ulur untuk stimulus ini akibat pilpres Amerika Serikat yang sedang berlangsung, kemungkinan Partai Demokrat yang saat ini menduduki DPR Amerika Serikat akan merealiasikan Stimulus jumbo ini dalam waktu dekat, efek dari terpilihnya Presiden Amerika Serikat yang baru dari partai Demokrat yaitu Joe Biden.

Program Biden yang ketiga adalah mendukung penuh upaya energi yang ramah lingkungan (Green Energy). Tentu saja dalam hal ini adalah mobil listrik yang akan semakin di gencarkan lalu pembangkit tenaga listrik dan energi lainnya yang ramah lingkungan. Indonesia sebagai salah satu produsen Nikel terbesar di dunia akan mendapatkan keuntungan dari kebijakan tersebut. Karena Nikel adalah bahan dasar pembuatan baterai mobil listrik, tentunya Indonesia akan kebanjiran permintaan Nikel sehingga akan meningkatkan ekspor bahan baku dari Indonesia. Hal ini terbukti dari Sektor pertambangan hingga hari Kamis siang tanggal 12 November 2020, saham emiten dari sektor mining menjadi primadona dan diburu oleh investor akibat program ini.


Emiten perusahaan pertambangan yang menjual Nikel menjadi saham yang memiliki prospek bagus untuk jangka panjang. Seperti hot issue minggu lalu dengan judul,”Saham Komoditas menarik?” sektor komoditas khususnya Nikel bisa menjadi investasi saham yang bagus untuk jangka panjang.

Pindah ke kabar lainnya dimana ada berita baik dari perkembangan vaksin corona. Vaksin hasil kolaborasi Amerika Serikat Pfizer.inc dan German yaitu BNT162b2 dikatakan berhasil dan ampuh melawan virus Corona sebesar 90%. Hal ini membuat pasar modal menjadi semarak di akhir tahun 2020 ini, sekaligus menambah optimisme untuk menyambut perekonomian 2021 yang lebih baik dari tahun ini.

Secara garis besar efek terpilihnya dari Presiden Biden ini adalah aliran dana asing yang masuk ke pasar modal negara berkembang termasuk Indonesia menjadi deras masuknya. Lalu selanjutnya sektor komoditas terutama Nikel yang akan diburu oleh investor. Karena banyaknya dana yang akan keluar dari Amerika Serikat menuju ke Emerging market, membuat US Dollar menjadi melemah dan membuat mata uang lainnya menjadi naik. Hal ini mengakibatkan harga emas yang masih akan naik dan harga saham yang akan ikut terangkat karena kemungkinannya Biden tidak akan sekeras Trump dalam perang dagang dengan China, serta Biden yang lebih dapat di prediksi kebijakannya dibandingkan dengan Trump. Perlu diingatkan kembali bahwa market lebih menyukai kepastian.

Nah itu tadi ringkasan tentang Biden Effect yang bisa menjadi rekomendasi pilihan dalam bertransaksi saham. By the Way Disclaimer on ya karena balik lagi, kalianlah yang mengatur portofolio kalian. Hot Issue ini bisa menjadi referensi kalian dalam melihat outlook kedepannya. Kita ketemu lagi di Hot Issue minggu depan. Tetap pakai masker, Tetap jaga jarak, Tetap cuci tangan sesering mungkin di air yang mengalir ya! See you next week! Bye!