Dalam minggu ini kita disajikan oleh reli positif IHSG yang mulai mendekati 6000, dimana IHSG sampai dengan hari kamis tanggal 19 November 2020 ada di 5.594.059. Namun ada salah satu emiten yang menjadi daya tarik di minggu ini. Apa itu? Saham GIAA atau Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Saham GIAA mulai kembali terbang dimana saat ini berada di 390 perlembar sahamnya. Lalu apa yang membuat saham GIAA ini rebound? Let’s talk bout this!

Garuda Indonesia (persero) Tbk (GIAA) didirikan tanggal 31 Maret 1950 dan mulai beroperasi komersil pada tahun 1950. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Garuda Indonesia (persero)Tbk, yaitu Pemerintah Indonesia (pengendali) (60,54%) dan credit Suisse AG Singapore TC AR CL PT Trans Airways (25,62%). Pada tanggal 1 Februari 2011, GIAA memperoleh pernyataan efektif dari Babepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana saham GIAA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 6.335.73.000 lembar saham seri B dengan nilai nominal Rp500,- persaham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 11 Februari 2011.

Itu sejarah singkat perjalanan Garuda Indonesia (persero) Tbk (GIAA) dari awal berdiri sampai dengan IPO di tahun 2011. Selanjutnya kita coba melihat pergerakkan harga saham GIAA sampai dengan hari Kamis, tanggal 19 November 2020.


Saat ini saham GIAA dalam proses kenaikan yang cukup signifikan dimana sebelumnya di akhir Oktober berada di kisaran 200 perlembarnya. Namun saat ini berada di kisaran 390 hampir menyentuh 400 perlembarnya. Lantas sentimen positif apa yang mempengaruhi saham tersebut?

Yang pertama adalah berita yang datang dari ustadz Yusuf Mansyur. Setelah sebelumnya sukses meraup keuntungan dari kenaikan harga saham BRIS, ustadz Yusuf Mansyur mengajak masyarakat Indonesia khususnya Milenial untuk membantu maskapai kebanggaan bangsa Indonesia yaitu Garuda Indonesia dari keterpurukan akibat efek pandemi covid-19.

Seperti yang dikutip dari berita okezone.com yang terbit tanggal 12 November 2020. Kerugian PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menjadi sorotan Ustadz Yusuf Mansyur, setelah Ustadz tersebut memposting ihwal kerugian perusahaan berkode emiten GIAA menjadi sentiment positif, hingga saham BUMN tersebut terkerek naik. Menanggapi hal itu, Ustadz Yusuf Mansur menyatakan rasa senangnya setelah mengetahui harga saham GIAA terus menguat. “Maasyaa Allah… Seneng banget kalau sentimen positif saya dengan izin Allah, bisa bikin kawan-kawan untung dan Garuda membaik terus,” tulis dia seperti dikutip dari laman resmi instagramnya, Jakarta, Kamis (12/11/2020).


Dirinya pun sempat memposting gambar pergerakan intraday saham GIAA yang menguat Rp44 atau 15,28% ke Rp332. Data perdagangan juga mencatat nilai transaksi saham garuda mencapai Rp 218,3 miliar dan volume perdagangan 681,7 juta saham. Secara tidak langsung sang Ustadz ikut mempromosikan saham GIAA untuk mengajak masyarakat membantu saham GIAA untuk naik.

Faktor yang kedua ada pencairan dana PEN sebesar 8,5 Triliun yang akan cair dalam waktu dekat ini. Dana ini akan dipergunakan untuk peningkatan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor perseroan terkait penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp8,5 triliun lewat mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

Lalu faktor terakhir adalah perombakkan direksi Garuda. Dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (20/11/2020) Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akhirnya memutuskan pergantian sususan pengurusan perusahaan. Dalam RUPSLB yang digelar hari ini, menteri BUMN Erick Tohir, sebagai perwakilan pemegang saham pemerintah, mengganti posisi Direktur keuangan Garuda yang dijabat Fuad Rizal, salah satu direksi yang masih tersisa pada era kepemimpinan dirut lama Garuda yang diberhentikan. Sebagai gantinya Erick menunjuk Prasetio. Sementara itU, Erick masih mempertahankan Irfan Setiaputra sebagai direktur utama yang sudah dijabat Irfan sejaK Januari 2020. Dari perombakkan ini kita bisa melihat Garuda Indonesia mendapatkan angina segar dari perubahan tersebut. Di era kepemimpinan lama dimana kasus sepeda Bromton hits menjadi salah satu buruknya kinerja manajemen sebelumnya.

Lalu untuk Fundamentalnya sendiri bagaimana? Mari kita lihat Laporan keuangan Garuda Indonesia selama tiga tahun ini.



Ini adalah beberapa rasio yang gw gunakan untuk mengukur kinerja fundamental suatu emiten. Dari penilaian sekilas, kita dapat mengetahui bahwa kinerja fundamental GIAA bisa dikatakan kurang bagus. Current ratio sebagai dasar penilaian untuk mengukur kemampuan membayar hutang jangka pendek kurang dari 1. DER nya pun cukup tinggi yaitu di atas satu bahkan sampai di kuartal ketiga berujung minus.

Secara garis besar saham GIAA ini dapat kita manfaatkan untuk trader dikarenakan banyaknya issue eksternal yang positif untuk jangka pendek kenaikan harga saham ini. Untuk jangka panjang kita dapat mengetahui bahwa GIAA memerlukan waktu untuk recovery akibat pandemi covid-19 ini. Sebelum covid-19 datang, kinerja keuangan GIAA bisa dikatakan masih kurang baik. Maka dari itu Menteri BUMN Erick Tohir merubah sistem daripada manajemen GIAA agar bisa menjadi lebih efektif dan effisien. Dampak nyata dari hasil kerjanya adalah merubah susunan direksi Garuda yang dilakukan hari ini.

Nah itu tadi Hot Issue minggu ini. Kembali lagi kepada kalian dalam melakukan investasi. Bijaklah dalam menilai suatu informasi dan pahami dulu kinerja keuangan perusahaan tersebut. Apabila Fundamental perusahaan tersebut bagus maka kemungkinannya harga sahamnnya akan mengikuti.

Kita ketemu lagi di artikel Hot Issue Minggu depan. Tetap Jaga Jarak, Tetap pakai masker, Tetap cuci tangan sesering mungkin yaa! Bye!