Hello December! Yap, sudah di akhir tahun 2020. Apa yang kalian alami selama tahun 2020 ini? Dirumah aja? Meeting zoom terus? Working from home? Virus Corona? Banyak hal dan pengalaman baru yang terjadi di tahun 2020. Well, khusus di pasar modal ada istilah yang lagi ramai dibahas oleh kalangan investor. Apa itu? Window Dressing dan Santa Claus Rally. Sebenarnya mereka itu apa dan kenapa banyak di perbincangkan oleh para investor? Well, Welcome to hot issue this Week!

Tidak selamanya tahun 2020 itu buruk kok. Contohnya kenaikan investor baru khususnya investor retail di tahun 2020 yang signifikan. Dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat 20 Oktober 2020,โ€Direktur Retail dan Treasury Mandir Sekuritas, Theodora VN Manik mengatakan, di masa pandemi, hampir 95% nasabah ritel melakukan transaksi secara daring. Perseroan juga mencatatkan peningkatan investor baru lebih dari 50% dibandingkan periode yang sama tahun laluโ€. Nah secara khusus juga gw baru banget terjun di pasar modal membeli saham secara langsung itu di tahun ini. Karena gw menunggu momentum pasar modal yang sulit banget kita jumpai. Yap! Betul sekali anjloknya IHSG di tahun ini. Sembari gw membeli saham secara langsung, gw juga belajar dari pengalaman yang gw dapet selama transaksi jual beli saham, ikut webinar online, dan rajin membaca buku biar nambah ilmu. Berhubung banyaknya investor baru di tahun ini termasuk gw hehehe kita pahami yuk apa itu Window Dresing dan Santa Claus Rally.

Window Dressing, sebenarnya apa itu window dressing? Apakah Jendela pakai baju? Yang jelas bukan ya. Window Dressing adalah manuver yang sering kali dilakukan oleh perusahaan terbuka ataupun perusahaan pengelola keuangan untuk mempercantik kinerja sebelum menyerahkan laporan ke klien atau pemegang saham. Biasanya, fund manager menjual saham dengan kinerja buruk dan membeli saham yang memperlihatkan kinerja baik menjelang akhir tahun. Nah, sepertinya window dressing mulai dilakukan oleh investor bulan November ini nih. Coba kita perhatikan pergerakkan IHSG sampai dengan bulan ini.

Sebelum bulan November IHSG masih berada di kisaran 5100. Namun memasuki bulan November ini IHSG melonjak sampai dengan 5.783.335 perjumat 28 November 2020. Seperti prediksi para pengamat dimana sepertinya window dressing ini terjadi lebih cepat dari sebelumnya. Namun menilik sejarah IHSG bulan November adalah bulan yang sebetulnya kurang baik untuk IHSG. Kita lihat data beberapa tahun kebelakang bulan November.


Sumber : warkop saham

Dirangkum dari hasil studi yang di release dari trader warkop saham, bulan November lebih akrab untuk depresiasi IHSG. Di tahun lalu contohnya IHSG minus sampai dengan 6%. Hasil ini bisa dibilang bahwa para investor mencuri start untuk window dressing. Banyaknya saham bluechip yang memiliki fundamental bagus namun masih diharga yang murah membuat para investor mengarahkan bidikannya ke saham bluechip.


Walaupun pada perdagangan hari jumat tanggal 27 November 2020 LQ45 terdepresiasi namun secara garis besar saham LQ45 naik secara drastis. Lalu apa yang membuat para investor mulai menyerbu aset beresiko tinggi?

Yang pertama pemilu Amerika Serikat yang sudah selesai. Perekonomian Amerika Serikat bisa dibilang menjadi kiblat perekonomian dunia saat ini. Apa yang terjadi pada perekonomian Amerika Serikat tentunya akan berefek kepada perekonomian dunia. Dengan terpilihnya presiden terbaru yaitu Joe Biden yang mengalahkan Donald Trump, membuat perekonomian Amerika Serikat menjadi lebih jelas. Berbeda dengan era pemerintahan Donald Trump dimana Donald Trump sangat sulit di prediksi dan banyaknya kontroversi yang dia buat, Joe Biden lebih memiliki sikap yang tenang dan memiliki sifat yang lebih jelas. Kebijakan Joe Biden yang ingin menaikkan pajak membuat para investor Paman Sam lebih memilih untuk mengalokasikan dana mereka ke emerging market (Negara berkembang) salah satunya Indonesia. Di bulan November ini bisa kita lihat bahwa investor asing mulai menyerbu pasar modal Indonesia yang bisa dibilang menjadi salah satu perekonomian yang menjanjikan.

Lalu yang kedua adalah Omnibus Law yang mulai memancing investor asing masuk ke Indonesia. Dengan segala pro kontranya Omnibus Law secara garis besar cukup bagus untuk menunjang investasi yang akan masuk di Indonesia. Pasar pun menyambut antusias dengan membanjiri pasar modal Indonesia di bulan Ini.

Dan yang terakhir adalah kabar uji coba dari vaksin Pfizer & moderna. Vaksin menjadi kunci utama dalam memerangi virus Corona. Hampir satu tahun ini perekonomian dunia menjadi mati suri. Pemberlakuan lockdown di berbagai wilayah dan Negara, terbatasnya mobilitas masyarakat dunia, lalu tingginya angka penyebaran virus Corona membuat perekonomian menjadi terhambat bahkan bisa dibilang menjadi berhenti. Penemuan vaksin corona memberikan harapan agar kita bisa kembali ke kehidupan normal sebelumnya. Hasil dari vaksin dari Pfizer dan Moderna mengatakan bahwa vaksin tersebut memiliki tingkat efektivitas 90%. Hal ini membuat investor menjadi optimis di akhir tahun 2020 dan recovery perekonomian yang akan terjadi di tahun 2021.

Bagaimana dengan pergerakkan IHSG di bulan Desember?

Sumber : EM Trade Academy


Bulan Desember sering disebut sebagai Santa Claus Rally. Kenapa? Karena IHSG lebih sering terapresiasi dengan rata-rata 3%. Di bulan Desember 2019 IHSG berhasil terapresiasi hamper 4%. Lalu apa yang harus dilakukan?

Kalian bisa tetap melakukan analisis pribadi sesuai dengan profile investasi yang ingin di capai. Melihat fakta yang terjadi di market saat ini bisa dibilang awal tahun depan IHSG bisa berada di posisi 6000. HAMPIR MENYAMAI SAAT VIRUS CORONA BELUM MENYEBAR. Mulailah melakukan akumulasi pembelian namun tetap menyediakan dana segar. Kenapa? Karena perpindahan kekuasaan pemerintahan Amerika Serikat sepertinya masih memerlukan waktu. Melihat sikap Trump saat ini bisa menghambat perpindahan pemerintah ke Joe Biden sehingga memerlukan waktu yang lebih lama lagi. Hal ini bisa memicu pasar yang akan kembali menarik dananya dari market hingga kepastian pengangkatan presiden Joe Biden.

Kalian bisa mulai memperhatikan sektor-sektor yang kemungkinan bangkit di tahun depan, seperti komoditas. Komoditas menjadi sektor yang menarik dikarenakan program green energy yang di usung oleh presiden Joe Biden. Sektor farmasi yang menjadi penjualan vaksin masih cukup menarik untuk di koleksi. Sektor consumer dan property akan menjadi sector selanjutnya yang akan bangkit setelah vaksin diberikan dan kembali memutar perekonomian.

Nah, itu tadi pembahasan hot issue minggu ini. Bijaklah dalam melakukan investasi saham. Lakukan analisis yang lebih mendalam! Jangan hanya mengikuti pemberitaan atau mengikuti teman yang sudah melakukan pembelian saham lebih lama dibandingkan kita. Sampai jumpa di hot issue minggu depan. Tetap pakai masker! Tetap jaga jarak! Rajin-rajinlah cuci tangan! Sampai Jumpa!