Awal bulan Desember 2020 bisa dibilang adalah kembalinya IHSG ke level 6.000. Sampai dengan perdagangan minggu pertama bulan Desember IHSG saat ini berada di level 5.900. Banyaknya saham bluechip yang sudah mulai kembali ke harga sebelum corona menyerang yang membantu IHSG kembali ke level sebelumnya. Tapi tau kah kalian ada saham bluechip yang masih tertidur di saat IHSG mulai kembali ke level 6.000? Well, Let’s talk bout this on Hot Issue this week!

PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau lebih dikenal dengan Sritex adalah pabrik tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara. Berlokasi di JL KH Samanhudi no.88, Jetis, Kec.Sukoharjo,Kab Sukoharjo,Jawa Tengah. Sritex awalnya adalah kios kecil bernama UD Sri Rejeki di pasar klewer, Solo yang didirikan oleh Almarhum Ie Djie Shien atau H.Muhammad Lukiminto pada 1966. Setelah usaha tersebut berkembang, H.Muhammad Lukminto membangun pabrik cetak kain atau printing di Baturono, Solo pada 1968. Pabrik cetak pertama Sritex di Baturono, Solo yang memproduksi kain putih berwarna pada 1968. Pada 1972, pabrik tersebut diberi nama Sri Rejeki Isman Tbk dan mulai terdaftar sebagai Perseroan Terbatas (PT) di Kementrian Perdagangan pada 1978. Karena perusahaan terus mengalami peningkatan dan perkembangan kinerja, pada 2013 PT Sri Rejeki Isman Tbk resmi terdaftar di pasar saham Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SRIL.

Nah, itu tadi adalah perkenalan dan Sejarah singkat dari PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). Bagi kalian yang belum tau SRIL itu perusahaan yang bergerak di bidang apa? SRIL ini adalah perusahaan tekstil terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Perusahaan ini juga masuk menjadi salah satu anggota LQ45 di Bursa Efek Indonesia. Namun ada beberapa mitos yang mewarnai naik turunnya harga saham SRIL ini. Di kalangan investor saham SRIL ini cukup terkenal dikarenakan harga sahamnya yang hampir tidak pernah kemana-mana. Kita coba cek pergerakkan harga sahamnya.


Dilihat dari Maret sampai dengan saat ini pergerakkan harga SRIL bergerak naik. Sempat turun di bulan Oktober 2020 akibat kembali di perketatnya PSBB, SRIL mampu kembali naik, sampai dengan Kamis 10 Desember 2020 saham SRIL saat ini berada di 242. Lalu bagaimana dengan fundamentalnya? Apakah secara Fundamental saham ini bagus?



Kita mulai dari current ratio dari SRIL. Current ratio SRIL bisa dibilang sangat baik. Konsisten diatas 3, bahkan di tahun lalu sampai 4,9. Current ratio di gunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar hutang-hutang jangka pendek. Selain current ratio kita melihat lebih dalam dengan menilai Debt Equity Ratio (DER). Rasio DER ini digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek dan jangka panjang. DER dari saham SRIL ini bisa dibilang kurang baik dikarenakan DERnya diatas 1, namun kita bisa lihat di setiap tahunnya rasio DER dari SRIL terus mengalami penurunan. Lanjut ke ROE. ROE adalah Return Of Equity. Berapa banyakkah keuntungan yang didapat untuk di taruh di Equity perusahaan tersebut. Dilihat dari rasionya ROEnya berada di dua digit yang dapat diartikan potensi untuk mendapatkan keuntungan dari devidennya sangat tinggi. Lalu dari PER, nilai PERnya ini mendekati satu dengan PBV dibawah satu juga yang menandakan harga saham ini sangat murah dibandingkan dengan nilai fundamentalnya sekarang. Lalu bagaimana issue untuk perusahaan ini?

Dikutip dari CNBC Indonesia Rabu 18 November 2020,”Perusahaan Tekstil asal Solo, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex melakukan negosiasi perpanjangan pinjaman sindikasi senilai US$ 350 juta atau setara Rp 4,9 Triliun (kurs Rp 14.000/US$) yang jatuh tempo pada 2022 diundur menjadi 2024. Sekretaris perusahaan Sritex Welly Salam menjelaskan alasan perpanjangan tenor itu karena memang ada opsi untuk perpanjangan selama 2 tahun atas hutang indikasi itu. Pinjaman ini pun mengacu pada perjanjian pinjaman 2 Januari 2019, perubahan perjanjian tanggal 20 Maret 2019 dan perubahan terakhir 9 April 2020 antara perusahaan (sebagai peminjam). Pinjaman ini disusun oleh Citigroup Global Markets Asia Limited, DBS Bank Ltd, PT Bank HSBC Indonesia serta The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (sebagai Agen). Welly menegaskan, kendati pada 2024, Sritex juga memiliki obligasi global jatuh tempo sekitar US$ 150 Juta, akan tetapi negosiasi perpanjangan itu tidak akan membebani perusahaan.”

Dilihat dari issue diatas kita dapat melihat gambaran dari rasio DER yang melebih angka satu ini bisa menjadi sebuah perhatian investor. Mengingat DER perusahaan yang diatas satu bisa dibilang kurang bagus, namun yang saya suka dari kasus ini adalah manajemen SRIL yang bisa memanage keuangan mereka dengan baik. Mereka dapat mengelola pendapatan dan pengeluaran mereka dengan baik.

Sepintas saya sangat tertarik dengan saham SRIL ini. Dengan Fundamental yang bagus dan harga saham yang murah membuat saya tertarik untuk membeli saham ini. Namun setelah saya melakukan survey mendalam dan melihat kenaikkan harga sahamnya dari awal IPO sampai saat ini, membuat saya kembali bertanya dan cenderung kurang yakin untuk membeli saham ini. Kenapa? Mari kita lihat pergerakkan harga saham secara keseluruhan.



Kita coba lihat pergerakkan harga saham dari awal IPO di tahun 2013 sampai dengan saat ini. Dengan fundamental yang baik namun tidak di barengin dengan harga saham yang naik. Saham ini mencetak harga tertingginya di tahun 2015 di angka 400 namun setelah itu harga sahamnya tidak pernah menyentuh angka itu lagi, bahkan saham ini sekarang berada di 242. Kenapa?

Well, no one’s no. Banyak issue liar berkembang di media online sehingga saya agak menarik minat saya untuk membeli saham ini. Mungkin saham ini lebih sering diperdagangkan oleh para trader. Dengan nilai valuasi saham yang murah, memang saham ini bisa dijangkau oleh siapa saja. Maka harganya pun mudah dipermainkan oleh para trader.

Jadi, mungkin selama saham bluechip SRIL ini masih tertidur dan belum melewati posisi tertingginya saya belum akan masuk untuk membeli saham ini.

Nah itu tadi pembahasan hot issue di minggu ini. Kita ketemu lagi di hot issue minggu depan ya! Sampai ketemu lagi di artikel selanjutnya! Tetap pakai masker, tetap jaga jarak, dan tetap cuci tangan sesering mungkin yaa! See you!