Pernah gak sih kalian nonton film tapi kaya banyak kebetulan gitu? Nah, saya pernah mengalami hal yang kebetulan itu. Maaf sebelumnya jika prolog ini begitu panjang. Tapi kan ini blog saya, ya suka-suka saya.. heheheh. Jadi begini ceritanya…



Saya selain suka menonton film, saya juga suka membaca buku, sudah nerd sekali bukan?. Tapi kalian tidak perlu khawatir, secara visual saya adalah orang yang cantik, hehehe. Jadi, beberapa tahun lalu saya membaca buku karya Pramoedy Ananta Toer yang berjudul ‘Perawan Remaja Dalam Genggaman Militer’, buku ini bercerita tentang salah satu kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Jepang kepada negara jajahannya selama Perang Dunia Kedua. Jugun Ianfu, yaitu kejahatan perang yang dilakukan Jepang terhadapan remaja perempuan atau wanita muda di negara jajahannya dimana mereka dijadikan budak seks untuk tentara-tentara Jepang dengan tipu daya bahwa para perempuan muda itu akan dijanjikan pekerjaan dan kekayaan, tapi ternyata mereka dijadikan budak seks untuk tentara Nippon tersebut.

Selama menjajah Indonesia juga pihak Nippon memperlakukan para remaja dan wanita muda di Indonesia dengan tipu daya yang sama, ya kita juga pernah dijajah Jepang selama 1941-1945, seperti itu lah kurang lebih yang saya ingat isi buku tersebut. Selang dua hari saya membaca buku tersebut saya random menonton film, nah tidak tau kenapa karena saya lihat poster Lee Jee Hoon yang membuat saya terpesona di seri Signal (2016), saya pun menonton film tersebut yang berjudul I Can Speak (2017).


I Can Speak menceritakan tentang seorang PNS yaitu Park Min Jae (Lee Je Hoon) yang dipindah tugaskan ke pinggiran kota Seoul di kantor pelayanan masyarakat di daerah tersebut. Di tempat barunya itu dia sering bertemu dengan seorang nenek-nenek resek yang bernama Na Ok Boon (Na Moon Hee) yang sangat resek, setiap apapun yang dianggapnya salah di lingkungannya pasti dia selalu komplain ke kantor pelayanan masyarakat tempat Park Min Jae bekerja, sampai-sampai karyawan yang berada di sana kualahan menghadapi wanita yang umurnya sudah banyak ini.

Sampai akhirnya hanya Park Min Jae yang anak baru itu pun yang melayanin komplain Na Ok Boon yang sangat meresahkan itu (meresahkan karena dia bawel banget). Selain tukang komplain, Si Wanita Tua itu ternyata ingin bisa berbahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan adiknya yang tinggal di Amerika karena adiknya tidak bisa berbahas Korea. Dia pun mengetahui bahwa Park Min Jae jago berbahasa Inggris, dan dia membujuk pemuda itu dengan mengajarinya berbahasa Inggris, awalnya Si Pemuda tidak mau mengajari Si Wanita Tua resek itu. Dengan segala bujuk rayu Si Nenek itu pun akhirnya Si Pemuda itu mau mengajarinya berbahasa Inggris.


Mungkin sampai sini cerita dalam film ini begitu biasa saja, tapi lama kelamaan kita akan ditunjukan sebuah plot twits yang menurut saya sangat keren. Ternyata ada udang dibalik bakwan, Si Nenek ingin bisa berbahasa Inggris karena ingin dia ingin bersaksi sebagai korban kejahatan perang Jepang pada Perang Dunia Kedua dimana dia saat itu usianya masih tiga belas tahun dijadikan budak seks tentara Jepang, atau namanya lainnya Jugun Ianfu.

Kesaksian tersebut ingin dia sampaikan di kongress di Amerika karena sebelumnya kesaksian mereka disalah artikan hingga terjadi kesalahpahaman karena terkendala bahasa, oleh karena itu Si Nenek ini ingin bisa menguasai bahasa Inggris. Dan dibagian ini saya langsung takjub, wah ternyata temanya cukup serius juga film ini. Secara langsung kita akan disuguhkan cerita sejarah yang sampai saat ini kejahatan perang tersebut tidak diakui oleh pihak Jepang dan tidak ada permintaan maaf dari pihak Jepang tentang kejahatan perang tersebut.

Itulah mengapa saya bilang sangat kebetulan saya membaca buku dari Pak Pram dan menonton film I Can Speak ini karena tema yang sama tentang Jugun Ianfu, sebelumnya saya tidak membaca sinopsis pada film ini. Film ini juga berdasarkan kisah nyata, ya namanya bukan film Korea ya, selalu menunjukan komedi dan drama melankolis yang imbang.

 

Kita akan disajikan bagaimana seorang nenek yang bawel banyak komplain di lingkungan itu, sedikit-dikit komplain hingga membuat orang disekitarnya jengkel ternyata mempunyai tujuan terpuji dengan menceritakan kebenaran yang ada pada dunia diusianya yang senja itu. Tidak mengherankan kalau film ini menjadi box office di Korea pada tahun tersebut dan mendapat banyak penghargaan di ajang film 17th Director’s Cut Award sebagai Film of The Year dan Best Actress yang diberikan kepada Na Moon Hee, dan banyak lagi.

Saya suka film ini dari segi penceritaan dan setiap karakter dalam film tersebut terus berkembang, ini adalah salah satu film Korea yang berkesan untuk saya karena tema yang membuat kita tau bahwa keadilan itu harus tetap disuarakan atau diperjuangkan, jangan sampai generasi penerus kita tidak tau sejarah.

oleh karena itu saya sangat merekomendasikan film ini agar kita semua terus tau bahwa ada ketidak adilan yang belum dipertanggung jawabkan, dan karena para korban Jugun Ianfu rata-rata sudah berusia senja bahkan sudah tiada (mungkin kalian ingin jadi aktivist tentang hal ini), ada baiknya kita disajikan film yang bertemakan seperti ini, ya walaupun banyak buku yang menceritakan tentang tema seperti ini, tapi saya yakin minat baca kalian tidak seberapa heheh,

jadi lebih baik menonton film saja (Jiaaah)… Okey, dari pada lama kelamaan saya jadi SJW lebih baik saya akhiri tulisan saya sampai di sini.

Terima kasih

Penulis : Risa Umami