Sektor Komunikasi menjadi salah satu sektor yang naik signifikan di masa pandemi ini. Banyaknya Perusahaan yang menerapkan Working From Home, menjadi salah satu alasan sektor ini meningkat. Lalu bagaimana dengan tahun 2021? Apakah sektor Telekomunikasi masih menjanjikan? Kita coba bedah salah satu bluechip yang ada di sektor Telekomunikasi milik Pemerintah. Apalagi kalo bukan Telkom dengan kode saham TLKM. So, People letโ€™s talk bout this!

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09% sedangkan 47,91% sisanya dikuasai oleh publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode โ€œTLKMโ€ dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode TLK. Dalam upaya bertransformasi menjadi digital telecommunication company, TelkomGroup mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan membuat organisasi TelkomGroup menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah) dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung sangat cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menciptakan costumer experience yang berkualitas.

Dari Sejarah singkat TLKM kita bisa melihat bahwa TLKM membuat langkah yang efektif dan efisien dalam menunjang kebutuhan costumer mereka. Pengorganisasian dalam tubuh TLKM di buat lebih ramping agar menjadi lincah untuk dapat beradaptasi dengan industri Telekomunikasi yang berlangsung sangat cepat.

Kita coba perhatikan grafik dari TLKM ini!



Berdasarkan data terakhir 30 Desember 2020 saham TLKM saat ini berada di harga Rp 3.310 per-lembar saham. Sebelumnya saham TLKM terkena koreksi -3,22% akibat taking profit yang terjadi pada IHSG. Kalo kita lihat menjelang akhir tahun 2019 ini sampai dengan bulan Oktober 2020, Saham TLKM membentuk pergerakkan downtrend. Lalu setelahnya, di bulan November 2020 saham TLKM mulai bergerak naik kembali. Untuk jangka pendek pergerakkan harga TLKM kemungkinan mulai menuju pergerakkan Sidelines. Perlu waktu kembali apabila saham TLKM kembali membentuk pergerakkan uptrend. Bagi kalian investor jangka panjang ini bisa jadi kesempatan kalian untuk kembali mengoleksi saham TLKM di karenakan saham TLKM saat ini mulai membentuk sidelines sehingga masih ada kesempatan untuk mengoleksi kembali.

Lalu bagaimana dengan issue yang terjadi di tahun 2020 ini untuk TLKM?

Yang pertama ada isu dimana Telkomsel kucurkan dana sebesar Rp 2,1 Triliun ke Gojek. Dikutip dari Ipotnews Selasa 17 November 2020,โ€Untuk mendongkrak kinerjanya, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia (persero) Tbk (TLKM) telah mengumumkan langkah investasinya ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) senilai US$150 Juta. Menurut Direktur Utama Telkomsel ke Gojek, kesepakatan keduanya telah terjadi, Senin (16/11). Adapun nilai investasi yang di gelontorkan Telkomsel ke Gojek seniali US$150 Juta atau sekitar Rp 2,1 Triliun. Mengutip Bisnis, Senin (16/11) Gojek terakhir memperoleh pendanaan pada Juni 2020 lalu dari Google, Tencent, Facebook, dan Paypal. Pada Maret 2020, Gojek sempat mendapat pendanaan seri F senilai US$1,2 Milyar, saat itu pendanaan dipimpin oleh Mitsubishi Corporation, Mitsubishi Motors, Mitsubishi UFJ Financial Group, dan Visa. Pendanaan tersebut dimanfaatkan untuk mendorong digitalisasi UMKM di Tanah Air.

Dari issue pertama ini kita bisa lihat kalo TLKM memiliki saham di Gojek. Kapabilitas Gojek sudah tidak di pertanyakan lagi. Menjadi Perusahaan decacorn lokal yang sudah go International. Gojek menjadi pesaing utama Grab di Indonesia. Namun issue terbaru mengatakan kalo Gojek akan merger dengan Grab. Apabila ini terwujud TLKM secara tidak langsung akan mendapatkan keuntungan karena 2 perusahaan tersebut menjadi pelopor driver online di Indonesia. Hal ini bisa kembali di manfaatkan untuk investor jangka panjang.

Lalu yang kedua adalah Menteri BUMN ingin Jadikan TLKM Fondasi program โ€œSatu Dataโ€ Pemerintah. Dikutip dari Ipotnews Rabu 16 Desember 2020,โ€Menteri BUMN Erick Thohir menginginkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk/Telkom (TLKM) menjadi fondasi bagi program satu data pemerintah. โ€œTelkom sudah memiliki program data center, national innovation, tetapi saya juga menantang atau challenge program satu data bahwa Telkom penting menjadi fondasi program satu data pemerintah,โ€ujar Erick Thohir dalam seminar daring di Jakarta, Rabu (16/12).โ€ Menurut Menteri BUMN, dengan memiliki program satu data yang bisa dikelola oleh Telkom, namun datanya milik pemerintah, maka bisa juga mendukung transparansi program-program pemerintah. โ€œDengan demikian, kita bisa menekan program-program pemerintah yang di korupsi. Hal Ini berperan penting sebagai digitalisasi yang terjadi di Indonesia,โ€katanya.

Dari Issue yang kedua ini bisa kita lihat bahwa TLKM senantiasa di awasi dan di control oleh Pemerintah. TLKM di tunjuk sebagai pelopor digitalisasi data di pemerintah untuk membuka transparansi data. Sehingga dapat membantu meminimalisir tindakan Korupsi. Sebagai Investor tentunya kita tidak perlu khawatir pada TLKM karena adanya pengawasan yang ketat dari pemerintah.

Issue yang ketiga adalah Telkomsel, FREN & Tri bersaing di lelang 5G. Dikutip dari CNBC Indonesia Selasa 15 Desember 2020,โ€Tiga operator telekomunikasi di Tanah Air dinyatakan lolos evaluasi administrative dalam lelang pita frekuensi radio 2,3 GHz pada rentang 2.360-2.390 MHz untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler. Frekuensi tersebut dapat digunakan untuk mendorong adopsi jaringan 5G.
Issue yang ketiga ini sangat menarik. Kenapa? Tentunya adalah persaingan 5G. Teknologi 5G dipastikan akan menjadi persaingan panas untuk operator seluler di Indonesia pada tahun 2021. TLKM sebagai BUMN telekomunikasi yang dimiliki Indonesia tentunya akan menjadi pemeran utama karena infrastruktur yang sudah dimiliki dan jaringan yang lebih luas di Indonesia. Jadi bagi investor yang memiliki saham TLKM, siap-siap meraup cuan di tahun 2021 yaa!

Setelah kita merekap issue yang terjadi pada saham TLKM selanjutnya kita analisis fundamental perusahaan ini!

Dari Market cap terjadi penurunan di tahun 2017 ke tahun 2018 namun di tahun 2019 market cap berhasil naik. Hal ini dapat menggambarkan bagaimana kerasnya persaingan industri komunikasi di Indonesia. Ini juga bisa kita lihat dari gambaran pada Net profit yang turun dan stagnan di tahun 2018-2019. Di tahun 2020 ini sudah terjadi recovery khususnya kuartal 3 yang masih naik. Untuk Current Ratio dibawah satu karena hutang jangka pendeknya melebih aset lancar yang dimiliki, namun setelah di cek menggunakan Debt Equity Ratio, DERnya masih dibawah 1 yang menandakan rasio hutang masih baik. ROE yang tinggi menandakan pembagian deviden yang tinggi.

Jadi bagaimana saham TLKM? Apakah bagus untuk di koleksi?

Untuk investor jangka panjang kalian bisa nih membeli saham TLKM yang masih terdiskon. Harga sebelum virus Corona menyerang adalah Rp 3.800n sementara harga sekarang di Rp 3.310. Melihat record saham TLKM yang bisa naik secara signifikan dari Rp 2.500n ke Rp3.200 potensi itu masih mungkin di dapatkan apalagi perang 5G yang akan dimulai tahun 2021 membuat TLKM masih menjadi favorit di bidang telekomunikasi.

The Profile masih akan terus mengulas emiten-emiten yang berpotensi cuan di tiap minggunya. Pastikan kalian tidak terlewat di edisi setiap minggunya! Kita jumpa lagi di The Profile selanjutnya. Tetap pakai masker, Tetap Jaga Jarak, dan Tetap raji cuci tangan sesering mungkin yaa! See You!